Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga bangsawan yang diberikan kepadanya hak istimewa akses gratis ke pendidikan pilihannya. Dia mendapat pendidikan dasar dari ELS (Europeesche Legere School) kemudian melanjutkan pendidikan di Stovia (Java Medical School) namun karena alasan kesehatan ia tidak bisa menyelesaikannya. Dia strated menulis untuk surat kabar dan akhirnya semua tulisan-tulisannya terfokus pada patriotisme Indonesia, sehingga anti Belanda. Ia terlibat dalam kegiatan awal Budi Utomo dan Partai Indiesche, yang yang baik penting dalam pengembangan awal dari Pergerakan, "gerakan" yang tumbuh dengan kesadaran politik yang baru lahir nasional Indonesia. Ia diasingkan antara tahun 1913 dan 1919 sebagai berikut publikasi dua artikel nya: "Als ik eens Nederlander" (jika aku dutchman a) dan "een voor allen en allen voor één '(satu untuk semua dan semua untuk satu). Dia menggunakan waktunya di pengasingan untuk mempelajari lebih lanjut tentang pendidikan dan memperoleh sertifikat Europeesche. Setelah kembali, ia lebih terfokus pada upaya budaya dan pendidikan membuka jalan untuk mengembangkan konsep pendidikan di Indonesia. Dia percaya bahwa pendidikan sangat penting dan cara yang paling penting dari feeing Indonesia dari cengkeraman penjajahan. Ia memainkan e peran utama dalam estabilishing "Onderwijs Institut Taman Siswa" pada tahun 1922. Lembaga ini estabilished untuk mendidik asli Indonesia selama masa penjajahan. Lembaga ini didasarkan pada prinsip-prinsip ini: 1. Ing tuladha ngarsa sung (satu di depan memberikan teladan) 2. Ing madya mangun karsa ((satu di tengah bulids semangat dan dorongan) 3. Tut wuri handayani (satu di belakang memberi dukungan).
Sedang diterjemahkan, harap tunggu..
