3.2. Kerentanan Penilaian: Kesenjangan di Sastra
Sementara berbagai penulis telah menilai tingkat kerentanan berdasarkan berbagai faktor, dasar mereka gunakan untuk
memilih faktor-faktor ini sering tidak dijelaskan secara jelas (gap pertama). Selain itu, pemilihan faktor jarang dikaitkan
dengan karakteristik atau dimensi kerentanan masyarakat. Masalah ini disorot oleh Alwang et al.
(2001); Adger et al. (2004); Downing & Patwardhan (2004) yang berpendapat perlunya penjabaran lebih jelas dari faktor
proses seleksi. Meskipun beberapa penelitian telah mempertimbangkan faktor-faktor kerentanan dari berbagai disiplin
perspektif, faktor-faktor yang dipilih memiliki korelasi yang lemah dengan karakteristik inti dari definisi kerentanan
yang dituangkan dalam Tabel 2 (misalnya Armas 2008; Odeh 2008.). Oleh karena itu, menghubungkan dimensi-dimensi kerentanan terhadap
proses seleksi faktor penting.
thereis kebutuhan untuk menilai efektivitas adaptasi dalam mengurangi kerentanan, sebaiknya menggunakan kuantitatif
pendekatan yang mengevaluasi skenario yang berbeda. Untuk mengakomodasi quantitativeapproach sebuah, kerentanan perlu
ditetapkan menjadi beberapa indikator yang terukur, seperti di Brenkert & Malone (2005); Armas (2008). Indikatornya adalah
seperangkat subkomponen yang mencerminkan kinerja kerentanan dalam masyarakat. Indikator berbeda
faktor tovulnerability yang mewakili penyebab kerentanan bagi masyarakat. Penelitian di masa depan harus fokus pada
pemodelan skenario untuk mengidentifikasi langkah-langkah adaptasi yang paling efektif untuk mengurangi kerentanan terhadap bencana di masa mendatang.
3.3. Menjembatani Kesenjangan Sastra dalam Mengurangi Masa Depan Kerentanan Tingkat
Kesenjangan dalam jelas mengidentifikasi dimensi kerentanan dan bagaimana aspek konteks masyarakat
harus menginformasikan proses seleksi faktor. Proses faktor selectingrelevant dapat mulai dengan membuat daftar panjang-
faktor dari penelitian yang relevan sebelumnya. Setelah itu, faktor-faktor yang dapat dikelompokkan berdasarkan skala sosial yang berbeda
dari individu ke masyarakat kelompok yang lebih besar dan pendekatan multidisiplin kemudian digunakan untuk menilai relevansi mereka untuk
lokasi studi kasus tertentu. Hasilnya bisa menjadi daftar pendek dari faktor kerentanan awal (misalnya kurang beruntung
orang, fasilitas darurat dan utilitas, andnumber dukungan eksternal dari penduduk). Akhirnya, faktor awal
yang harus diverifikasi oleh beberapa pemangku kepentingan menggunakan proses delphi atau kelompok fokus diskusi untuk memilih yang relevan
faktor akhir untuk penilaian kerentanan dalam setiap studi kasus. Verifikasi ini penting untuk memastikan konteks
nilai tertentu dari penilaian kerentanan.
Sedang diterjemahkan, harap tunggu..
