Bank Dunia (WB) Ekonom Ndiame Diop mengatakan target penerimaan pajak Indonesia sebesar Rp 1,489.3 triliun (US $ 1,49 kuadriliun) yang ditetapkan pemerintah dalam APBN 2015 direvisi (APBN-P) tidak mungkin dicapai. "Target penerimaan pajak tahun ini terlalu ambisius karena harga komoditas yang menurun. Selain itu, pendapatan dari sektor minyak dan gas juga menurun, dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak dunia, "katanya seperti dikutip Antara di Jakarta, Rabu. Diop mengatakan target penerimaan pajak di Indonesia mengalami kesulitan yang dicapai dalam beberapa tahun terakhir karena perlambatan ekonomi dan penurunan harga komoditas di dunia. Tahun ini, penurunan harga minyak juga akan mempengaruhi target pendapatan negara. "Kekurangan A tidak dapat dihindari. Selain itu, pada tahun 2015, penurunan tajam harga minyak dapat mempengaruhi non-pajak target penerimaan negara. Pemerintah harus bekerja lebih keras, "katanya. Analis lebih lanjut menjelaskan bahwa berbagai upaya, termasuk revisi beberapa peraturan untuk mengumpulkan potensi pajak baru, yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak, tidak akan optimal tahun ini karena dampaknya akan terlihat hanya pada tahun 2016. Dia mengatakan jika target pendapatan direalisasikan bisa tidak mendekat ke potensi mereka, pemerintah harus menyesuaikan pengeluaran sehingga defisit anggaran bisa masih dipertahankan pada sekitar 2 persen dari PDB. "Proyeksi kami adalah bahwa defisit anggaran akan mendekati 2,5 persen dari PDB tahun ini," kata Diop. Secara terpisah, Indonesia Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo Bambang Sulistio Ketua Kadin mengatakan memahami pandangan pemerintah bahwa kenaikan target penerimaan pajak yang diperlukan untuk penyediaan dana untuk belanja infrastruktur; Namun, situasi saat itu tidak kondusif bagi kebijakan tersebut. "Kita bisa memahami niat pemerintah untuk meningkatkan penerimaan pajak tapi waktunya tidak tepat. [...] Saat ini, pengusaha menghadapi masa sulit akibat krisis; bagaimana kita bisa mendorong lagi dengan [berat] target pajak? Saya pikir pemerintah harus mempertimbangkan kembali ini, "katanya.
Sedang diterjemahkan, harap tunggu..
