Hasil (
Bahasa Indonesia) 1:
[Salinan]Disalin!
Mahathero(Bana Bhante) nya Sadhanananda kekudusan Ven.Ven. Bana Bhante(the forest monk) adalah Bhikkshu terkenal, terkenal disembah, Waskita, Mahakuasa, maha mengetahui di Bangladesh yang telah mencapai magga tertinggi 'Arahanta'. Untuk empat puluh tahun, melampaui hambatan keagamaan, creed, dan divisi sosial lainnya, lebih dari dia memiliki.. .been memberikan arah kepada orang-orang dari semua lapisan masyarakat banyak seperti Tuhan Gautama Buddha tentang perkembangan moral dan spiritual mereka. Dengan demikian, Ven. Banabhante pernah meminta sekte particualr apapun atau segmen penduduk atau untuk setiap individu tertentu untuk pengabdian mereka kepadanya sebagai pemuja sulit. Milik tidak ada satu, ia benar-benar milik semua orang yang datang untuk merangkul meneguhkan cita-citanya untuk memperkaya kehidupan mereka dengan memelihara dan budidaya 'kusala kamma'.Sebagai Arahanta, His Holiness Ven. Banabhante mempertahankan disiplin ketat menegakkan perintah Sang Buddha untuk 'Sangha' yang terkandung dalam 'Binoypitok' dan ia tegas menghindari setiap klaim kepemilikan pada apa-apa--uang, hadiah yang mahal, materi properti, dan 'penggemar khusus'. Individu dengan manfaat dan isi dari kualitas batin mereka sendiri dapat membuat supaya disayangi diri kepada Ven. Banabhantee dan dengan demikian satu kedekatan ke Bhikkshu mulia tidak bisa dianggap sebagai preferensi pribadinya. Memang, sebagai Arahanta Waskita, ia dapat langsung melihat manfaat laten atau 'kekurangan' antara umat-Nya. Karena ia telah meningkat ke ketinggian puncak immesuarable prestasi melebihi batas-batas yang normatif, ontologis. Falsafah mendasar dan ajaran-nya berasal dari ajaran Buddha sebagai dia mengingatkan semua orang di yg terjadi setiap hari hidup yang penting dan kebutuhan untuk kepatuhan terhadap prinsip-prinsip Sang Buddha ' sila'(good conduct), ' samadhi'(right meditation), dan ' prajna'(attainment of wisdom).Sebagai kehidupan tidak akan bercerai dari diurnal keberadaan, menjadi lebih mendesak bahwa kami memperhatikan kami melakukan dan Ven. Bana Bhante bersemangat memberikan sejumlah yang berkembang dalam kebajikan kebohongan erat terkait dengan kecenderungan mental kita. Tindakan kita dengan predilections busuk pasti akan membawa hasil yang tidak sehat yang mewujudkan 'dukkha' berarti penderitaan. Ajarannya yang menunjuk keterangan pada penderitaan tak berujung terperosok dalam kami siklus kelahiran kembali dan kejam mengingatkan bahwa tindakan kita menghasilkan tidak dapat dihindari konsekuensi berdasarkan kemampuannya sendiri. Ada tidak ada tongkat sihir yang perbuatan-perbuatan nakal hanya bisa, meskipun keinginan tak terbatas, membasuh atau hendam oleh beberapa perdukunan ajaib. Dengan demikian, berakar dalam realitas ilmiah keterkaitan antara sebab dan akibat, dan wajar penegasan Ven. Bana Bhante membayangkan komunitas progenies sekarang dan masa depan yang akan adhesively mengikuti meneguhkan melakukan tanpa 'Ahimsa', tersembunyi kecemburuan, iri hati, perasaan sengit dan lain melakukan ditanggung keluar dari perversities kotor--dalam pikiran, kata-kata, dan dalam semua jenis kegiatan sehari-hari. Seperti kita mendambakan untuk hidup dalam damai dan harmoni, tindakan kita harus bertepatan dengan negara kita dalam pikiran. Pikiran-pikiran negatif, tidak sehat dengan mental kekotoran pasti akan berkembang biak yang tidak diinginkan, tidak diinginkan hasil. Salah satu kebutuhan untuk menyelidiki sifat realitas dengan menggali jauh ke dalam realitas pikiran dan masalah dalam diri, tidak dalam bentuk penebusan, tetapi dalam upaya tulus untuk melepaskan pikiran dari kekotoran batin. Hati-hati pengamatan realitas oleh menginterogasi sifat relaity mengarah pada pengamatan dari kebenaran. Itu adalah untuk mengetahui diri melalui proses pemeriksaan diri. Investigasi itu membutuhkan kewaspadaan, disiplin diri dan self-analyses tajam ke isi pikiran kita. Ini seni hidup tertanam di meditasi VipassanaBorn in Rangamati, on the auspicious day of 8th January, 1920, Rathindranath bore signs of an occult and astounding greatness. His gaze since childhood was set on a far distant future as though he remained deeply absorbed in compassionate contemplation at humanity's intense sufferings and finding ways to alleviate their pains and incalculable misery. His observations on the world around us gave him the determinations to set out in search of 'Saimyak gyan' or right views. Merely a novice in the Buddhist Sangha, the 'Rathindra Sraman' made a query to his then teacher Sri Dipankar Mahathero who were staying at Chittagong Buddhist temple. His teacher was startled by his disciples' rather audacious inquiry-'how to attain right wisdom' or 'Prajna'. The young 'samana' was discontent at heart as he failed to quench his bubbled up thirst to grasp the infinite, immesuarable, and ineffable. An enormous inward transformation brought about a stupendous, supramental consciousness as 'Rathindranath Sraman' embarked on his unkown journey at nearby Longhadhu Forest adjacent to his childhood residence at Dhanpata forsaking mortal dangers, agonies of sensory deprivations of foods and shelter. He was fearless like Siddharta Sri Goutama whose 'mahaviniskraman' certainly gave him the exemplary impetus to be worth emulating. And, Rathindranath after 12 years of austere practice of Bippassana emerged as the 'Forest Monk', the venerable 'Bana Bhante'. The uniqueness of 'Bana Bhante's' emergence did not simply come from introspective dissection or from intellectual analyses of contents of his vast consciousness. It had gone through a gigantic inward transformation saturated in his unnerving determination like Tennyson's Ulysses--'to strive, to seek, and to find, but never to yield'.
Sedang diterjemahkan, harap tunggu..
